Sudah hampir dua bulan berlalu sejak pertemuan pertama mereka di toko roti kecil bernama Amber Loaf Bakery. Hubungan antara Nalendra dan Hachiko berkembang lebih cepat daripada yang bisa dibayangkan siapa pun. Pertemuan demi pertemuan yang awalnya hanya tentang roti dan kopi, berubah menjadi obrolan panjang yang tak pernah terasa membosankan.
Pasha yang selama ini hanya mengenal Hachiko sebagai ‘anak bakery’ sekarang sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Kehangatan yang dibawa Hachiko dengan sifatnya yang blak-blakan tapi tulus, entah bagaimana bisa dengan mudah mengisi ruang kosong di antara kesibukan Pasha. Bahkan Pandu, sepupu sekaligus sahabat terdekat Nalendra yang sempat berkunjung ke Jepang, dibuat geleng-geleng kepala melihat betapa cepatnya keduanya menjadi akrab.
“Gue nggak tau sih kenapa lo betah banget di Jepang sampai lebih dari sebulan, tapi kayaknya sekarang gue tau alesannya,” begitu kata Pandu dengan nada menggoda ketika mereka berkumpul di apartemen Nalendra beberapa minggu lalu.
Saling menginap di rumah masing-masing bukan lagi hal yang aneh bagi mereka. Kadang, Hachiko menghabiskan malam di apartemen Nalendra setelah mereka berkeliling kota atau sekadar nongkrong sambil bekerja di café. Di lain waktu, justru Nalendra yang lebih sering menginap di rumah Hachiko dengan alasan ingin menghabiskan waktu lebih lama di toko roti yang terasa begitu nyaman—dan tentu saja agar bisa melihat Hachiko bekerja dengan serius, yang menurutnya punya daya tarik tersendiri.
Ketika pertama kali menginap di rumah Hachiko, Nalendra disambut dengan keramahan ibunya yang hangat. Seorang wanita dengan senyum lembut dan tangan terampil yang menghasilkan roti-roti lezat setiap harinya. Tidak butuh waktu lama sampai wanita itu menganggap Nalendra seperti keluarganya sendiri, apalagi ketika tahu bahwa Pasha, pelanggan setianya, adalah kakak sepupu dari pria yang sekarang sering terlihat di toko rotinya.
Suasana di antara mereka begitu alami, seakan-akan pertemuan itu memang sudah direncanakan sejak lama. Tak ada rasa canggung yang menghambat, hanya kehangatan yang terus mengalir seiring waktu. Nalendra menemukan ketenangan di tengah kekacauan hidupnya, sementara Hachiko menemukan seseorang yang membuatnya merasa lebih dihargai dan diperhatikan.
Namun, seiring dengan semakin akrabnya mereka, ada sesuatu yang perlahan menggerogoti hati Nalendra. Sesuatu yang disadarinya tapi selalu berusaha dia abaikan. Bahwa pada akhirnya, ini semua hanya sementara.
Mereka tertawa bersama, berbagi cerita, saling mengisi hari-hari yang entah bagaimana terasa begitu mudah ketika dihabiskan bersama. Tapi di balik semua itu, ada ketakutan yang perlahan mengendap. Ketakutan yang selalu datang ketika Nalendra sendirian, merenung di apartemennya yang terasa semakin sepi setiap kali Hachiko tak ada di sana.
Langit sudah mulai menggelap, dan lampu-lampu kota Tokyo yang biasa terlihat dari jendela apartemen Nalendra mulai menyala, membingkai malam dengan cahaya yang gemerlap. Di dalam kamar yang hangat, Hachiko terlelap dalam dekapan Nalendra. Napasnya yang lembut menghembus di atas dada pria yang kini mengelus rambutnya dengan gerakan yang lambat dan penuh sayang.
Hari ini terasa begitu menyenangkan. Bersepeda keliling Tokyo dan belanja bulanan bersama Hachiko ternyata lebih seru daripada yang Nalendra bayangkan. Mereka tertawa, bercanda, dan bahkan sempat adu pendapat soal merk kopi yang paling enak. Nalendra bahkan mengizinkan Hachiko mengisi kulkasnya dengan bahan makanan favorit si anak tengil itu.
Nalendra menunduk, menatap wajah Hachiko yang terlihat begitu tenang ketika tidur. Pipinya yang merona lembut dan bibirnya yang sedikit terbuka membuat senyum kecil terlukis di wajah Nalendra.
“Chiko…” bisiknya pelan sambil mengusap pelan pipi remaja itu. “Kalau tiap hari kayak gini, saya jadi nggak pengen kamu balik ke rumah.”
Seolah mendengar gumamannya, Hachiko menggeliat pelan sebelum membuka matanya yang terlihat setengah mengantuk. “Mmm… ngomong apa?” suaranya berat dan serak karena baru bangun.
“Saya bilang... enak juga ya punya bantal yang empuk begini,” balas Nalendra dengan nada menggoda.
Hachiko terkekeh, lalu tanpa sadar mengeratkan pelukannya. “Cie... modusnya mulai nih. Nggak ada bantal yang lebih empuk dari aku?” godanya sambil menguap kecil.
“Jelas nggak ada.” Nalendra menyeringai, lalu menundukkan wajahnya mendekat ke telinga Hachiko. “Kalau tiap hari kayak gini, saya bisa ketagihan, Chiko.”
Mata Hachiko yang tadinya masih mengantuk kini sepenuhnya terbuka. “Ih, kamu tuh ya... serius banget ngomongnya,” gumamnya dengan senyum kecil yang nggak bisa dia sembunyikan.
Nalendra tertawa kecil. “Saya serius, kok. Kamu nyaman di sini, kan?”