Begitu Hachiko masuk ke dalam rumahnya, Nalendra hanya bisa menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu dari balik kaca mobil. Tangannya masih menggenggam kemudi, tapi pandangannya kosong. Ada sesuatu yang menghimpit dadanya—sesuatu yang bahkan senyum Hachiko tidak bisa redakan.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran cemas yang tanpa sebab itu. Namun, semakin dia menghirup udara, semakin jelas pula ingatan tentang Karin dan Farrel menyeruak ke permukaan. Mantan tunangannya yang dengan mudah mengkhianatinya demi pesaing bisnisnya sendiri. Betapa bodohnya dia dulu, percaya bahwa cinta dan kepercayaan bisa dibangun tanpa celah.

Rasa pahit itu kembali menguasai benaknya. Betapa ia sudah menyiapkan semuanya untuk Karin. Berbulan-bulan mengatur urusan bisnis agar mereka bisa memiliki kehidupan yang tenang dan nyaman. Ia bahkan rela menekan egonya, mengorbankan waktunya, hanya demi memastikan masa depan mereka tidak kekurangan apapun. Namun semua itu tidak ada artinya ketika Karin memilih mengkhianatinya dengan Farrel.

Farrel, pria yang selama ini ia anggap sebagai rival yang menginspirasi. Seseorang yang membuatnya terus terpacu untuk menjadi lebih baik. Tapi di balik persaingan profesional itu, ternyata Farrel dengan licik merebut sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar bisnis—kepercayaannya.

Tangannya mencengkeram setir begitu kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Seakan dengan begitu, ia bisa mengusir seluruh rasa sakit yang terus merongrong dirinya. Namun, semua itu sia-sia. Yang ada hanya perasaan semakin terpuruk.

Akhirnya, setelah cukup lama terdiam, Nalendra menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya kembali ke apartemennya. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar. Bayangan Hachiko dengan senyum tengil tapi manisnya, wajah Karin dengan kepalsuannya, dan tatapan Farrel yang penuh kemenangan.

Setibanya di unitnya, Nalendra langsung menuju lemari khusus yang berada di sudut ruang tamu. Pintu kayu itu berderit pelan ketika dibuka, menampilkan sederet botol alkohol yang sebagian besar sudah tidak tersentuh selama ia berada di Jepang. Tangannya terulur mengambil sebotol vodka yang paling keras.

Tanpa ragu, dia membuka tutupnya dan langsung meneguk cairan bening itu. Sensasi panasnya mengalir dari tenggorokan hingga perut. Namun, rasa terbakar itu tidak cukup untuk menghanguskan kekalutan yang ada di pikirannya.

“Karin... Farrel...” gumamnya dengan suara serak. Mata Nalendra terpejam, berusaha menghapus segala bayangan masa lalu yang terus menghantui. Tapi kemudian bayangan Hachiko menyusup di antara kepingan ingatan yang hancur. Hachiko yang polos, yang selalu bisa membuatnya tertawa dan melupakan sesaat segala beban yang ia bawa.

“Gue nggak mau nyakitin dia...” suaranya pecah. Tangan yang menggenggam botol vodka mulai gemetar. Dia tidak bisa membiarkan Hachiko tersakiti hanya karena dirinya yang belum sembuh sepenuhnya. Karena luka yang ditinggalkan Karin dan Farrel masih terlalu dalam.

Namun, ada sesuatu dari Hachiko yang berbeda. Entah bagaimana remaja itu berhasil membuatnya tertawa lagi, membuatnya merasa dihargai dan dianggap tanpa harus membuktikan apa-apa. Nalendra tahu, hubungan mereka yang tidak pernah jelas ini sudah melangkah terlalu jauh. Sudah terlalu banyak momen yang mereka bagi bersama. Terlalu banyak malam yang mereka habiskan hanya untuk saling berbicara, bercanda, dan sesekali terlelap dalam dekapan satu sama lain.

Tapi justru karena semua itu, Nalendra semakin takut. Takut jika ia melangkah lebih jauh, maka Hachiko yang akan terluka. Karena dia sendiri tahu dirinya masih terlalu rusak untuk memberikan kebahagiaan yang layak.

Dengan tangan yang masih gemetar, Nalendra meneguk vodka itu lagi. Kali ini lebih dalam. Rasa pahitnya menyusup hingga ke tenggorokan, mengaburkan sedikit kesadarannya. Tapi ketakutan itu tidak kunjung hilang.

Gontai, dia berjalan menuju meja kerjanya. Jari-jarinya yang sudah mulai kehilangan koordinasi menyalakan laptop dan membuka situs pemesanan tiket pesawat. Dengan tergesa, dia mengisi data penerbangan. Matanya terpaku pada pilihan jadwal paling awal yang bisa membawanya kembali ke Indonesia.

Tanpa ragu, ia memilih penerbangan pertama esok pagi. Tangannya menekan tombol cetak, dan suara printer bergemuruh di tengah keheningan. Kertas tiket itu keluar perlahan, menjadi bukti nyata dari keputusan tergesa-gesanya.

Namun, hatinya masih bergejolak. Belum puas dengan itu, ia meraih ponselnya dan langsung menghubungi Lyvia.

“Lyv... Siapkan sopir di bandara besok. Gue akan sampai tengah malam. Pastikan juga semua laporan minggu ini sudah lengkap di meja gue pas gue sampai. Gue nggak akan lama di sana.”

“Tentu, Pak. Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Lyvia, kali ini terdengar lebih terjaga dan sedikit cemas.

“Enggak. Cuma perlu balik sebentar. Itu aja.” Nalendra menekan ujung hidungnya, berusaha menahan ketegangan yang semakin menumpuk.

“Baik, Pak. Saya akan mengaturnya.”