Mereka terus berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi, hanya beberapa orang yang tampak berlalu-lalang. Toko-toko mulai menutup tirainya, namun beberapa kedai ramen dan izakaya masih terlihat ramai oleh pengunjung.
“Kita nggak beli makan dulu?” tanya Hachiko saat melihat sebuah kedai sushi yang cukup menggugah selera.
“Mau makan di sini?”
“Nggak, cuma nanya aja. Toh, di rumah aku masih ada makanan kok. Lagi pula, aku lebih pengen makan sambil rebahan.”
Nalendra tertawa kecil. “Dasar anak malas.”
Setelah beberapa menit berjalan, mereka kembali ke mobil dan mengarahkannya menuju rumah Hachiko. Perjalanan terasa lebih sunyi kali ini. Musik lembut dari radio mengisi ruang hening di antara mereka. Sesekali, Hachiko bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang tidak dikenal Nalendra.
“Saya nggak nyangka Tokyo bisa seindah ini di malam hari,” ucap Nalendra, mencoba memecah keheningan.
Hachiko menoleh dengan alis terangkat. “Karena kamu turis, makanya kamu ngerasanya kayak gitu. Kalau udah jadi penduduk lokal, lama-lama bakal biasa aja.”
“Nggak tahu, sih. Tapi kayaknya nggak akan biasa kalau saya bisa lihatnya bareng kamu. Lagian saya udah mau dua bulan masih di cap turis aja?”
“Cih. Gombal. Dan masih lah! kan kamu disini cuman sebentar aja, jadi tetep itungan nya turis” Meski Hachiko mengeluh, jelas-jelas ada rona merah tipis di wajahnya.
Setelah melewati beberapa tikungan, mobil mereka akhirnya berhenti di depan gang kecil yang mengarah ke rumah Hachiko. Lampu-lampu jalan menyinari area itu dengan cahaya temaram yang membuat suasana jadi lebih hangat.
Nalendra menghela napas sebelum berbicara. “Saya ada rencana buat pergi ke pantai besok. Di luar Tokyo, namanya Enoshima. Lo tahu?”
Hachiko mengerutkan kening, mencoba mengingat. “Enoshima? Yang di Kanagawa itu?”
“Iya. Katanya pemandangannya bagus, dan... entah kenapa, saya pengen ngajak kamu ke sana.”
“Hmm... kenapa aku?”
“Karena kamu penduduk lokal yang udah biasa sama Tokyo yang sumpek. Kayaknya sesekali perlu diajak keluar kota, biar otaknya nggak panas.” Nalendra terkekeh.
“Jadi, ini ajakan healing gitu?” Hachiko menahan tawa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Bisa dibilang begitu. Jadi, gimana? Mau ikut?”
Hachiko terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Ya udah. Tapi lo yang bayar semuanya, kan?”
Nalendra menggeleng pelan dengan senyum terlukis di wajahnya. “Dasar anak tengil. Iya, saya yang bayar. kamu tinggal siapin diri buat berangkat besok pagi. saya jemput.”