Setelah mengambil mobil dari parkiran apartemen, Nalendra mempersilakan Hachiko dan Kaito untuk naik. Hachiko duduk di kursi penumpang depan, sementara Kaito memilih duduk di belakang.

“Mobil lo bersih banget, Lendra,” komentar Kaito sambil menatap ke sekeliling. “Kayak nggak pernah dipakai.” “Emang baru saya pakai kemarin, itu pun cuma buat pindahan barang dari bandara ke apartemen,” jawab Nalendra sambil menyalakan mesin mobil. “Sisanya lebih banyak jalan kaki atau naik taksi.”

“Ngapain lo jauh-jauh ke Jepang kalau malah kerja mulu?” Hachiko menyahut dengan nada bercanda sambil mengenakan seatbelt.

“Ya, kadang orang butuh suasana baru buat bikin pikirannya nggak stres,” balas Nalendra sambil tersenyum. Mobil mulai bergerak pelan keluar dari area parkir. “Jadi healing gitu?” Kaito menimpali dengan nada menggoda.

“Bisa dibilang gitu.” Nalendra mengangguk. “Saya pikir, pindah tempat sementara bisa bikin saya lebih produktif. Dan sejauh ini kayaknya teori itu lumayan berhasil.”

“Teori dari mana tuh?” Hachiko menatap Nalendra dari samping dengan ekspresi iseng. “Teori bikinan sendiri.” Nalendra terkekeh. “Lagian, kamu nggak pernah coba cari suasana baru biar lebih semangat?” “Gue? Nggak perlu. Toko roti udah cukup buat bikin gue sibuk tiap hari,” sahut Hachiko sambil menghela napas.

“Kecuali kalau lo mau ngajak gue jalan-jalan gratis, itu beda cerita.” “Dasar nggak tahu malu.” Kaito mendengus sambil tertawa pelan. “Kalau urusan jalan-jalan mah gampang,” jawab Nalendra santai. “Selama kalian nggak keberatan diajak muter-muter, saya sih oke-oke aja.”

“Om... maksud gue, Lendra,” Kaito sedikit tergagap. “Kenapa lo ngajak-ngajak kita sih? Biasanya turis kaya lo lebih suka jalan sendirian atau sama temen yang sesama turis.” “Siapa bilang? Menurut saya jalan sama lokal lebih seru. kita dapet rekomendasi tempat-tempat bagus yang nggak ada di buku panduan atau di aplikasi turis,” jawab Nalendra dengan nada serius.

“Lagian, kalau nggak ketemu Chiko kemarin, saya mungkin masih nyasar entah di mana.” “Oh, jadi lo cuma manfaatin Chiko doang nih?” goda Kaito sambil mengerling ke arah Hachiko. “Kalau iya kenapa? Gue juga dapat keuntungan kok. Ditraktir roti sama kopi, dan sekarang dapet tumpangan gratis ke kampus,” balas Hachiko dengan gaya tengil khasnya.

“Ah, tenang aja. Nanti gantian saya yang traktir kalian makan,” kata Nalendra sambil melirik Hachiko yang kelihatan terhibur. “Hmm, gue tagih janji lo, ya.” Hachiko mengangkat alis sambil menyeringai. “Boleh banget. Lo suka makan apa?” “Semua yang bisa dimakan,” jawab Hachiko cepat.

Nalendra tertawa mendengar jawaban itu. Perjalanan yang awalnya hanya niat basa-basi, justru terasa menyenangkan. Bahkan tanpa sadar, dia mulai menikmati perbincangan iseng dengan dua remaja yang jauh lebih muda darinya.

Mobil terus melaju melewati jalanan kota yang mulai sibuk. Pemandangan toko-toko kecil, pohon-pohon di pinggir jalan, dan orang-orang yang hilir-mudik menjadi latar yang entah kenapa terasa lebih hidup.