Pagi itu, Nalendra sudah berada di depan rumah Hachiko. Mobilnya terparkir di pinggir jalan dengan mesin yang masih menyala. Hachiko muncul dari dalam rumah dengan pakaian kasual yang simpel, tapi terlihat menggemaskan.
“Kamu semangat banget kayak mau pergi liburan seminggu, padahal cuma sehari,” goda Nalendra dengan senyum lebar ketika Hachiko masuk ke mobil.
“Hei, nggak setiap hari bisa jalan-jalan sama kamu, tahu,” jawab Hachiko sambil mengikat sabuk pengamannya.
Perjalanan menuju pantai di Chiba terasa ringan dan menyenangkan. Mereka menghabiskan waktu di jalan dengan obrolan ringan dan canda tawa. Sesekali Hachiko tertidur di pundak Nalendra, membuat pria itu tak bisa menahan senyum tipis di bibirnya.
Begitu tiba di pantai yang masih sepi, mereka langsung mencari tempat di pinggir pantai untuk meletakkan barang-barang mereka. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang khas.
“Aku selalu suka pantai. Rasanya damai aja,” ujar Hachiko sambil menatap laut biru yang membentang di hadapannya. ”Damai, ya? Nggak heran kamu suka ke sini,” balas Nalendra sambil tersenyum, matanya terus memperhatikan Hachiko.
Tanpa perlu banyak bicara, mereka mulai bermain-main dengan pasir. Membuat rumah pasir yang bentuknya sama sekali nggak karuan, tapi justru bikin mereka tertawa terbahak-bahak.
“Kamu serius itu bentuk rumah?” Hachiko tertawa sambil menunjuk hasil karya Nalendra yang lebih mirip gundukan pasir daripada rumah.
Kemudian, mereka lanjut berkejaran di tepi pantai, kaki mereka berlomba dengan gelombang yang sesekali menyentuh pasir. Hachiko tertawa keras ketika Nalendra akhirnya berhasil menangkapnya dari belakang, memeluknya erat.
“Kena! Nggak ada yang bisa lari dari Nalendra.”
“Aku juga nggak pernah mau lari dari kamu, kok.” Jawaban Hachiko membuat Nalendra tertegun sesaat.
Mata mereka bertemu dalam diam yang terasa hangat. Perlahan, Nalendra menundukkan kepalanya, menyentuh bibir Hachiko dengan lembut. Awalnya hanya ciuman singkat, seperti ingin memastikan bahwa perasaan mereka nyata.
Tapi ketika Hachiko membalasnya, ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih intens. Bibir mereka saling melumat, menyampaikan keinginan yang selama ini terpendam. Seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Saat mereka berpisah, Hachiko terengah dengan pipi yang merona. “Nalen... Apa kamu...”
“Apa?”
“Nggak, nggak apa-apa.” Hachiko menggeleng dengan senyum malu-malu, menutupi kegugupannya.
Siang berganti senja, dan mereka menghabiskan waktu dengan bersandar di atas pasir sambil menatap matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala. Namun, suasana hangat itu segera berubah menjadi dingin saat mereka dalam perjalanan pulang.
Di dalam mobil, suasana terasa canggung. Nalendra yang biasanya banyak bicara kini lebih banyak diam, wajahnya terlihat tegang.
“Kamu... Kenapa sih minta maaf soal tadi?” Suara Hachiko terdengar pelan, ragu.
Nalendra menghela napas panjang. “Karena saya ngelewatin batas, Chiko. saya nggak pernah ngeliat kamu sebagai lebih dari sekadar... teman. Atau lebih tepatnya, adik.”