Bandara Narita terasa begitu ramai malam itu. Nalendra berdiri di tengah kerumunan dengan ransel tersampir di bahunya dan koper hitam di sampingnya. Matanya menatap kosong ke layar keberangkatan, menunggu panggilan boarding untuk penerbangannya ke Indonesia.
Kedua matanya memerah, lelah karena kurang tidur dan efek vodka yang belum sepenuhnya menghilang dari tubuhnya. Namun, yang lebih membuatnya lelah adalah perasaan bersalah yang
“Bodoh... gue benar-benar bodoh.” Gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Bayangan wajah Hachiko semalam terputar jelas di benaknya. Mata Hachiko yang berkaca-kaca, bibirnya yang gemetar menahan tangis, suaranya yang pecah ketika mengusirnya pergi.
Ia meremas rambutnya frustrasi. Jepang... dan Hachiko... Keduanya adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, hidupnya terasa sedikit lebih ringan. Hachiko membuat segalanya terasa hangat, jauh dari kegelapan yang terus membayangi ingatannya tentang Karin dan Farrel.
Namun, ia memilih untuk menghancurkan segalanya. Menghancurkan dirinya sendiri.
Panggilan boarding terdengar, membuatnya tersentak. Dengan langkah berat, Nalendra bergerak menuju gate. Sesekali ia mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia sadar, ini adalah air mata. Sesuatu yang tidak pernah ia biarkan jatuh sejak peristiwa menyakitkan itu.
Perjalanan panjang di pesawat terasa begitu menyiksa. Matanya terus terpejam, tapi pikirannya tak pernah berhenti memutar kenangan bersama Hachiko. Tawanya, senyumnya, sikap manisnya yang selalu berhasil menghangatkan hatinya.
Tapi semua itu hanya akan menjadi kenangan. Kenangan yang ia kubur paksa, berharap bisa melanjutkan hidup seperti sebelumnya.
Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno-Hatta. Malam sudah terlalu larut ketika Nalendra keluar dari pintu kedatangan. Seorang sopir yang sudah disiapkan Lyvia menunggunya di sana, membukakan pintu mobil dengan sopan.
“Selamat malam, Pak Nalendra. Apakah Anda ingin langsung ke rumah?” tanya sang sopir.
“Ya. Langsung ke rumah.” Suara Nalendra terdengar datar, seperti tidak ada jiwa di baliknya.
Perjalanan ke rumahnya terasa begitu sunyi. Pandangannya hanya tertuju pada jendela, menatap gelapnya malam Jakarta yang terasa begitu asing.Begitu tiba di rumah, Nalendra langsung menuju kamarnya. Ia melemparkan koper ke sudut ruangan dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Tapi istirahat tak kunjung datang. Semuanya terasa salah.
Sekali lagi, ia sudah menghancurkan segalanya.