Malam itu terasa begitu panjang bagi Hachiko. Suara langkah kaki Nalendra yang menjauh dari rumahnya masih terngiang di telinganya, bergema seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.
Ketika pintu tertutup dan suara mobil Nalendra semakin menghilang, Hachiko berdiri kaku di ambang pintu. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang mengoyak dari dalam. Pandangannya mulai kabur oleh air mata yang mendesak keluar.
Ketika pintu tertutup dan suara mobil Nalendra semakin menghilang, Hachiko berdiri kaku di ambang pintu. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang mengoyak dari dalam. Pandangannya mulai kabur oleh air mata yang mendesak keluar.
Nalendra pergi. Pergi dengan meninggalkan kata-kata yang begitu menyakitkan.“Kamu adikku, Chiko. Hanya itu. Sejak awal hanya itu.”Kalimat itu menusuk telinga dan hatinya seperti ribuan pisau tajam. Rasanya seperti dihantam keras dari tempat yang tak pernah ia duga.
Hachiko jatuh berlutut di lantai kamarnya begitu ia berhasil menyeret tubuhnya ke dalam. Tangisnya pecah. Tak ada lagi yang bisa ia tahan. Hatinya hancur berkeping-keping dan tak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya.
“Nalendra...” namanya terucap lirih di sela-sela isak tangisnya. Satu nama yang selama ini ia pikir akan selalu berada di sampingnya, memberi kehangatan yang sudah menjadi candu baginya.
Nalendra bukan cinta pertamanya. Tapi Nalendra adalah cinta yang paling dalam yang pernah ia rasakan. Cinta yang mengisi setiap kekosongan dalam hatinya, setiap kekhawatiran yang ia rasakan, dan setiap impian yang ia bangun dalam diam.
Semua memori itu menyerang pikirannya tanpa ampun. Tatapan lembut Nalendra, senyuman hangatnya ketika mereka bercanda, genggaman tangannya yang selalu terasa nyaman. Semua kenangan itu tiba-tiba berubah menjadi luka yang menganga, menyayat setiap bagian dari dirinya.
Dan ciuman itu...Hachiko merasakan bibirnya bergetar. Masih terasa bagaimana bibir Nalendra menyentuhnya dengan kelembutan yang berubah menjadi gairah. Ciuman yang ia kira berarti lebih dari sekadar permainan. Ciuman yang membuatnya merasa spesial, seakan-akan ia adalah satu-satunya yang ada di dunia Nalendra.
Namun ternyata semua itu tak lebih dari kebohongan. Kebohongan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Kebohongan yang ia yakini sebagai kenyataan.
Berhari-hari ia mencoba menahan rasa sakit itu. Mencoba tersenyum di depan ibunya, di depan pelanggan bakery, bahkan di depan Kaito yang selalu menunggunya di halte setiap pagi. Tapi tawanya kini hanya cangkang kosong. Palsu.
Beberapa kali ia mengumpulkan keberanian untuk mendatangi apartemen Nalendra. Tapi setiap kali ia mengetuk pintu, yang ia temukan hanyalah keheningan yang menyesakkan.
Sampai akhirnya, dengan segala keberanian yang tersisa, ia mencoba memutar kenop pintunya. Terbuka. Tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan.
Nalendra benar-benar pergi. Tidak ada satu barang pun yang tersisa. Tidak ada kehangatan. Tidak ada aroma parfum yang biasa tercium samar di udara.
Dan Hachiko hanya berdiri di sana, menatap ruangan yang kini sudah tak lagi menyimpan kehadiran orang yang ia cintai. Air mata kembali menggenangi matanya. Tubuhnya menggigil di tengah kesunyian yang begitu menusuk.
Hari-hari terus berjalan. Hachiko mulai berubah menjadi seseorang yang nyaris tidak ia kenali. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan senyum yang dulu sering menghiasi wajahnya menghilang.
Setiap kali Kak Pasha datang ke bakery, Hachiko berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tapi ia tahu, Kak Pasha bukan orang bodoh. Kakak sepupu Nalendra itu pasti tahu apa yang terjadi. Pasti tahu bagaimana perasaannya hancur berantakan.
Terkadang, Hachiko ingin menumpahkan semua yang ia rasakan pada Kak Pasha. Tapi setiap kali ia membuka mulutnya, yang keluar hanyalah kata-kata basi. Dan Kak Pasha selalu menanggapinya dengan percakapan ringan yang seakan-akan tidak ingin menyentuh topik tentang Nalendra.
Hachiko mencoba membunuh perasaannya dengan menyibukkan diri. Membantu ibunya di bakery, mengantarkan pesanan, mengerjakan tugas kuliah... Tapi semua itu hanya upaya sia-sia. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar pergi.
Dan malam ini, ketika Hachiko membuka Twitter, sebuah foto muncul di berandanya. Sebuah artikel yang menyebutkan Nalendra tengah menjalin kasih dengan seorang artis muda berbakat di Indonesia.