Nalendra merapikan kemeja putih yang dikenakannya sebelum memasukkan laptop, buku catatan, dan iPad ke dalam tas selempang hitamnya. Barang-barang yang biasanya jadi teman kerja sehari-hari kini terasa lebih berat, mungkin karena jarak yang begitu jauh dari kantor sebenarnya.

Sebelum turun ke lobi, dia menyapa singkat petugas keamanan apartemen. Pria tua yang ramah itu membalas sapanya dengan anggukan sopan dan senyum bersahabat. Udara pagi yang segar menyambutnya ketika keluar dari gedung apartemen.

Sesuai petunjuk dari Pasha, Amber Loaf Bakery nggak terlalu jauh dari tempatnya menginap. Bahkan di aplikasi maps pun menunjukkan jaraknya hanya sekitar tujuh hingga sepuluh menit berjalan kaki. Cukup dekat untuk jadi tujuan sarapan sekaligus tempat bekerja.

Nalendra mengeluarkan ponselnya, mengambil foto beberapa sudut jalanan yang menurutnya menarik. Bangunan-bangunan tua yang masih terawat, pepohonan yang mulai berguguran, dan suasana tenang yang entah kenapa terasa menenangkan.

Setelah beberapa kali mengagumi pemandangan, dia akhirnya tiba di Amber Loaf Bakery. Toko roti itu tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Desainnya terasa nyaman dan hangat dengan dominasi warna coklat tua dari kayu-kayu yang digunakan. Begitu membuka pintu, aroma roti yang baru dipanggang langsung menyambutnya. Membuat perutnya yang mulai kosong ikut berbunyi pelan.

Tanpa berpikir panjang, Nalendra mengambil nampan dan mulai memilih beberapa roti yang terlihat menggugah selera. Croissant dengan lapisan renyah, roti isi custard, dan satu jenis roti manis berwarna coklat yang tidak dia ketahui namanya.

Saat mengantre menuju kasir, matanya menangkap sosok remaja yang sedang sibuk menyusun roti di rak pajangan. Rambut hitam pendek dengan ekspresi wajah yang serius. Namun, ketika remaja itu menoleh ke arahnya, ekspresi serius itu langsung berubah menjadi keterkejutan yang jelas terlihat.

“Hah? Om turis?” suara Hachiko keluar dengan nada yang agak terkejut tapi juga terdengar menggemaskan.

“Anak tengil? Kamu kerja di sini?” tanya Nalendra, lebih kaget lagi karena ternyata remaja ini bukan cuma pengantar roti nyasar.

“Ya iya lah. Nih, roti-roti ini semua buatan mama gue.” Hachiko menepuk-nepuk rak roti dengan bangga. “Jadi, Om turis niatnya mau beli roti atau numpang lihat-lihat doang?” Nalendra tertawa kecil. “Beli lah. Saya juga udah direkomendasiin sama Pasha buat nyobain bakery ini. Dan... Kayaknya aroma rotinya udah berhasil bikin gue laper.”

“kak Pasha? Oh... Jadi om kenal sama dia?” Hachiko mengangkat alis, kelihatan tertarik.

“Dia kakak sepupu saya. Udah lama tinggal di Jepang. Kayaknya dia pelanggan tetap di sini?”

“Cukup sering sih. Tapi lebih seringnya dia beli buat dibawa ke kantor,” jawab Hachiko sambil menata roti dengan lebih rapi. “Jadi, apa yang mau om beli?” Nalendra menyebutkan roti-roti yang sudah dia pilih, dan Hachiko mencatatnya di mesin kasir dengan cekatan. Setelah selesai, Nalendra mengeluarkan dompetnya dan memberikan sejumlah uang.

“Ngomong-ngomong, kamu nggak sekolah hari ini?” Nalendra bertanya sambil memasukkan roti-rotinya ke dalam tas kecil yang disediakan.

“Udah beres urusan nganter roti, baru berangkat ke kampus, btw gue tuh udah kuliah om! dan gue nggak bakal nolak juga sih kalau ditraktir roti atau kopi lagi, sih.” Hachiko terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya dengan gaya tengil yang sama seperti kemarin.

“Dasar anak tengil,” gumam Nalendra sambil tersenyum. “kamu ada nomor WhatsApp? Siapa tahu gue mau beli roti lagi tapi males jalan ke sini.”

Hachiko mengerutkan dahi sejenak, tapi kemudian menyerah. “Oke, deh. Tapi jangan asal ngirimin pesan aneh-aneh, Om.”

“Kalau saya bilang mau traktir lo kopi lagi, termasuk pesan aneh nggak?” goda Nalendra.

“Itu sih pesan berkah,” balas Hachiko sambil terkekeh dan meraih ponselnya. Mereka bertukar nomor WhatsApp dengan cepat.

“Oke, saya udah save nomornya. Jangan hilang ya, siapa tahu gue perlu bantuan lagi.” Nalendra menyelipkan ponselnya ke saku.